tulisa jalan

widget

Penerjemah

Minggu, 25 Mei 2014

Tentang Abah Uci

Abah Uci
Pada malam itu, sehabis shalat Isya' berjamaah di Masjid, ketika keluar dari Masjid mau pulang, ada dua orang jamaah mengajak untuk pengajian, "Pengajian yuk, ada abah Uci dari Cilongok". Mendengar nama KH. Uci disebut, saya langsung tertarik, karena nama KH. Uci sudah sangat populer dikalangan umat Islam, khususnya di Tangerang dan sekitarnya.


Sebenarnya saya sudah sering mendengar nama beliau, baik dari ustadz maupun dari teman dan ikhwan, bahkan saya sering diajak agar mengikuti Majelis Beliau yang diadakan setiap hari Minggu pagi di Pesantren. Namun sampai dengan saat ini saya masih belum pernah dapat hadir dalam majelis beliau, akan tetapi meskipun saya belum sempat bersilaturahmi, saya merasa tidak asing dengan beliau, karena secara pemahaman saya memiliki banyak persamaan dengan ajaran beliau, sehingga mendengar ajakan tersebut saya langsung bersedia untuk datang ke pengajian.

 Kamipun akhirnya berangkat menuju tempat pengajian yang letaknya lebih kurang empat kilometer dari kediaman saya. Setelah sampai di lokasi, ternyata lokasinya di sebuah Pondok Pesentren, di dalamnya sudah terdapat banyak jamaah, rupanya tuan rumah sedang mengadakan resepsi (hajatan). Kemudian kami dipersilahkan masuk dan menempati tempat yang telah disediakan. Tak berapa lama acara pun dimulai, dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, pembawa acaranya sepertinya seorang ustadz yang sangat 'faseh' dalam membawa acara, setelah pembukaan dilanjutkan dengan ceramah pendahuluan oleh seorang Ustadz. Kemudian acara utamapun dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh tiga orang Qori secara duet dan tunggal. Bacaannya sangat indah dan enak sekali didengar, sehingga saya membatin, "subhanallah, saya sangat beruntung malam ini bisa hadir disini".

 Waktu berjalan semakin larut, namun sang Kyai masih belum terlihat. Sampai kemudian, pembawa acara menyampaikan kalau KH. Uci sudah sampai di lokasi, namun masih kesulitan masuk ke area Pesantren karena jamaah yang berdesak-desakan. Tak berapa lama kemudian, mulailah terlihat rombongan memasuki area pesantren yang didahului masuknya para Santri yang cukup banyak, dan mengambil tempat (duduk) di depan. Sejenak kemudian terlihatlah KH. Uci Turtusi memasuki ruangan, memakai jubah putih, kudung putih, beliau terlihat agung berjalan dengan kawalan yang cukup ketat. Saya memutar pandangan ke sekeliling, terlihat jamaah 'bergejolak' berebut untuk dapat mendekati beliau untuk bersalaman.

 Beliau langsung 'diamankan' ke dalam, sementara sang pembawa acara terus melantunkan shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setelah suasana kondusif, barulah pembawa acara mempersilahkan KH. Uci untuk naik ke mimbar yang disana sudah tersedia kursi ukuran panjang, rupanya demikianlah gaya KH. Uci, ternyata setiap ceramah beliau lebih sering duduk bersila di atas kursi. Disaat beliau duduk, beliau menyibak-nyibakkan jubahnya dan membetulkan posisi kudungnya, terlihat oleh saya kulit lengan beliau yang putih mulus, seakan bercahaya. Saya membatin, "itulah kebersihan beliau yang senantiasa menjaga wudlu".

 Terdengar suara yang berat dari beliau saat memulai ceramah, beliau memulai ceramah dengan membaca shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW., yaitu shalawat Ibrahimiyah. Cukup lama shalawat dilantunkan yang diikuti oleh para jamaah, lantunan suara shalawat terdengar seakan mengelegar dimalam itu. Kemudian beliau melanjutkan ceramahnya, yang inti dari ceramah beliau adalah "Allah itu tergantung pada prasangka hamba-Nya". Dalam meyampaikan ceramahnya, beliau menyampaikannya dengan bercerita, suara beliau pun berubah-ubah menirukan lakon dalam cerita. Disini saya membatin kembali, "Beginilah kalau kakasih Allah berceramah, yang selalu sejuk untuk didengarkan". Dalam ceramah tersebut, beliau memakai bahasa Sunda khas beliau dalam berceramah. Anehnya saya dapat mengerti isi ceramahnya, meskipun saya tidak pandai dalam bahasa Sunda.

 Selesai ceramah, beliau turun dari mimbar. Pada sat beliau turun terjadi lagi jamaah yang merangsek mendekati beliau untuk bersalaman, karena banyaknya jamaah, kemuadian beliau berkata, "Cukup, cukup, cukup ya..". Saya pun sedikit kecewa karena tidak sempat bersalaman dengan beliau. Kemudian beliau langsung meninggalkan lokasi untuk pulang beserta rombongan. Kami pun bersama jamaah lainnya secara  berangsur-angsur bubar pulang ke rumah masing-masing. Diperjalanan, saya mendengar para ibu-ibu menirukan ucapan ceramah KH. Uci dengan maksud mengingatkan temannya. Saya melihat jamaah banyak sekali,  membaur, baik anak-anak, remaja, bahkan ibu-ibu yang awam.

 Dari pengalaman ini, saya teringat beberapa tahun yang lalu saya pernah berjumpa dengan dua orang Ulama, ketika itu saya merasakan 'sesuatu' seperti yang saya rasakan saat berjumpa dengan KH. Uci Turtusi dari Cilongok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar